Ekonomi Sulit, Rakyat Diam: Fenomena Pelarian Digital di Era Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka
Kondisi ekonomi Indonesia yang sesungguhnya lebih akurat terlihat dari keluhan rakyat kecil di tempat-tempat sederhana seperti warung kopi dan pangkalan ojek, bukan pada laporan resmi pemerintah. Di lapangan, para pekerja informal merasa mencari uang semakin sulit di tengah naiknya harga kebutuhan pokok, diperparah oleh pelemahan nilai tukar Rupiah.
Jika seseorang ingin mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi ekonomi Indonesia hari ini, mungkin ia tidak perlu membaca laporan tebal pemerintah atau mendengar pidato pejabat yang penuh angka dan grafik. Cukup datang ke tempat yang paling jujur di negeri ini: warung kopi pinggir jalan, warteg sederhana, atau pangkalan ojek online. Di tempat-tempat itulah kita bisa mendengar laporan ekonomi yang sebenarnya.
Tidak ada statistik, tidak ada istilah ekonomi yang rumit. Yang ada hanya keluhan yang terdengar berulang setiap hari dari rakyat kecil: mencari uang sekarang terasa semakin sulit.
Keluhan itu datang dari mana-mana. Pedagang kecil di pinggir jalan mulai bercerita bahwa dagangan mereka tidak lagi seramai dulu. Tukang es keliling sering pulang dengan termos yang masih setengah penuh. Pemilik warteg mulai mengurangi jumlah nasi yang dimasak karena pelanggan semakin jarang datang. Penjual gorengan, pedagang nasi, hingga pemilik warung kecil yang hidup dari pembeli harian merasakan tekanan yang sama.
Mereka mungkin tidak memahami teori ekonomi, tidak berbicara tentang kebijakan fiskal atau pertumbuhan nasional. Tetapi mereka memahami sesuatu yang jauh lebih nyata: pengeluaran semakin besar, sementara pemasukan semakin tidak pasti.
Cerita yang sama juga datang dari para pengemudi transportasi online. Dulu banyak orang berharap teknologi digital akan membuka peluang rezeki baru. Namun kini tidak sedikit sopir motor maupun mobil berbasis aplikasi yang harus menunggu lama hanya untuk mendapatkan satu pesanan. Mereka bekerja lebih lama di jalan, tetapi penghasilan tidak selalu ikut meningkat.
Di saat yang sama, harga kebutuhan pokok perlahan naik. Ketika nilai tukar rupiah sempat melemah hingga mendekati Rp17.000 per dolar Amerika pada awal tahun 2026, dampaknya langsung terasa bagi rakyat kecil. Bagi para ekonom, pelemahan rupiah mungkin hanya bagian dari dinamika pasar global. Tetapi bagi masyarakat yang hidup dari penghasilan harian, itu berarti satu hal yang sangat sederhana: biaya hidup semakin berat.
Di tengah kondisi seperti itu, ada fenomena lain yang cukup menarik. Kelompok yang selama ini dikenal sebagai penyambung suara rakyat, yaitu kalangan intelektual dan aktivis mahasiswa, justru terdengar semakin sunyi. Diskusi masih ada, kritik masih muncul di media sosial, tetapi energi untuk bergerak bersama terasa semakin lemah.
Di banyak tongkrongan mahasiswa bahkan sering terdengar kalimat yang cukup ironis:
"Tunggu perintah kanda dulu… senior dulu… ayahanda dulu… don dulu."
Istilah-istilah itu menggambarkan betapa gerakan yang seharusnya kritis terkadang justru terjebak dalam hubungan hierarki yang panjang. Banyak energi aktivisme akhirnya habis untuk menjaga relasi internal, program kecil, atau diskusi yang berputar-putar tanpa arah perubahan yang nyata.
Namun ada satu fenomena lain yang mungkin lebih besar dari semua hal tersebut. Fenomena itu adalah menjamurnya game online dan judi online yang kini hadir hampir di setiap sudut kehidupan digital masyarakat.
Jika pada masa lalu kemarahan sosial sering berujung pada demonstrasi di jalan, kini kemarahan itu seolah menemukan pelarian baru di dunia virtual.
Di banyak warung kopi hari ini, pemandangan yang terlihat bukan lagi perdebatan panjang tentang politik atau masa depan bangsa. Yang terlihat adalah orang-orang yang sibuk menatap layar ponsel. Ada yang fokus menaikkan level permainan, ada yang menunggu kemenangan dari taruhan online.
Dunia digital perlahan menjadi tempat pelarian dari kenyataan hidup yang semakin berat.
Rakyat tetap mengeluh tentang sulitnya hidup. Tetapi pada saat yang sama mereka juga menemukan cara baru untuk melupakan keluhan itu—meski hanya sementara.
Di sinilah ironi besar zaman ini muncul. Rakyat kecil, pekerja informal, hingga kaum intelektual sebenarnya memiliki keluhan yang hampir sama. Namun energi sosial mereka tidak pernah benar-benar menyatu menjadi kekuatan perubahan. Energi itu justru terpecah dan terserap oleh berbagai aktivitas digital yang tidak selalu membawa dampak bagi masa depan mereka.
Dari sudut pandang ini, muncul sebuah kesimpulan yang mungkin terdengar sinis tetapi terasa semakin relevan: pada periode awal pemerintahannya, Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka seolah terselamatkan oleh fenomena game online dan judi online.
Bukan karena semua persoalan ekonomi telah selesai.
Bukan pula karena rakyat sepenuhnya puas.
Tetapi karena energi sosial masyarakat yang seharusnya menjadi kekuatan kritik perlahan terserap oleh hiburan digital yang menawarkan kesenangan instan dan harapan kemenangan cepat.
Dalam situasi seperti ini, kemungkinan munculnya gerakan besar seperti pada masa reformasi dulu terasa semakin jauh. Bukan karena masalah sosial sudah selesai, melainkan karena masyarakat menemukan cara baru untuk menenangkan diri tanpa harus melawan.
Kemarahan sosial tidak lagi berubah menjadi gerakan politik.
Ia berubah menjadi jam-jam panjang di depan layar ponsel.
Namun sejarah selalu bergerak dengan caranya sendiri. Jika suatu saat tekanan ekonomi semakin berat, jika harga kebutuhan pokok terus menekan rakyat kecil, dan jika kesempatan kerja semakin sempit, maka bisa saja akan lahir generasi baru yang memilih jalan berbeda.
Generasi yang tidak lagi puas dengan kemenangan virtual, tetapi ingin melihat perubahan nyata dalam kehidupan mereka.
Untuk sementara waktu, keadaan memang terlihat tenang.
Rakyat mengeluh, tetapi tidak bergerak.
Aktivis mengkritik, tetapi belum bersatu.
Karena itu, dengan sedikit nada sarkastik, mungkin kita hanya bisa mengatakan satu hal:
Selamat kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Bukan karena semua persoalan telah selesai, tetapi karena dalam situasi seperti hari ini, game online dan judi online tampaknya menjadi “penjaga stabilitas sosial” paling efektif di republik ini.
Penulis : Toni